Leck Murman

Ingin menjadikan menulis sebagai bagian dari hidupnya. Walaupun tidak memiliki banyak teori tentang menulis yang penting menulis, menulis, dan menulis. Itu...

Selengkapnya
Balada KKM: Hasil Yang Mengingkari Proses
http://aplikasi-penilaian.blogspot.co.id/2014/08/aplikasi-pengolah-rapor-kurikulum.html

Balada KKM: Hasil Yang Mengingkari Proses

Ritual yang dilakukan guru di akhir semester adalah mengolah nilai. Semua berkas penilaian dibuka dan dipelajari. Yang belum lengkap diisi, yang masih kosong secepatnya disempurnakan, dan yang masih bolong-bolong harus segera ditambal. Riual penilaian semesteran membuat guru rajin luar biasa.

Dalam masa penerapan kurikulum 2013 (selanjutnya disebut K13), ritual penilaian semakin bertambah sacral. Banyak format yang harus diisi. Aplikasi yang modern minta dilengkapi. Data-data penilaian harus didokumentasi agar bisa menjadi nilai jadi yang siap dibagi.

Penilaian K13 memang menuntut guru untuk banyak berkutat pada masalah administrasi. Berbagai format penilaian harus dibuat oleh guru mencakup nilai pengetahuan, keterampilan dan sikap. Teknik penilaian pun menjadi lebih beragam yang semuanya mengarah pada penilaian otentik. Bersifat otentik karena guru harus menilai secara langsung berdasarkan kondisi nyata yang dilakukan siswanya.

Begitu rajinnya para guru dalam menilai otentik sehingga berbagai data diperolehnya. Guru memiliki secara detail kondisi anak-anak yang dalam asuhannya. Nilai sikap dan kepribadian dicatat setiap saat. Nilai pengetahuan disimpan setiap hari. Nilai keterampilan juga menjadi catatan penting yang tidak boleh hilang dari buku jurnal para guru.

Betapa rajinnya para guru sehingga mereka dokumentasi nilai yang sangat banyak. Setiap saat menilai dengan jumlah siswa ratusan tentu membutuhkan dokumentasi yang amat kompleks. Hanya aplikasi modern yang bisa membantu tugas para guru. Namun demikian data yang tersimpan menjadi sangat banyak dengan berbagai variasi penilaian yang dilakukan. Tidak boleh seorang guru hanya menilai aspek pengetahuannya saja dengan nilai 6, misalnya. Aspek kepribadian dan sikap harus selalu diikutsertakan dalam setiap kali proses penilaian yang dilakukan guru.

Dokumentasi nilai yang dimiliki guru tentu sangat berharga. Penilaian secara otentik membuktikan bahwa kemampuan siswa tidak pada kondisi yang sama. Ada sebagian anak yang memang cakap di bidang pengetahuan. Nilai mereka bahkan melampaui kriteria ketuntasan minimal (KKM). Tetapi, banyak juga anak-anak yang memang secara kognitif lemah. Tentu saja nilai mereka dalam katagori di bawah KKM. Berbagai upaya dilakukan oleh guru agar anak itu bisa memperoleh nilai yang baik. Akan tetapi daya ingat dan daya serap setiap anak berbeda-beda. Bagi anak yang kemampuan kognitifnya lemah, akan sulit bila dipaksanakan harus mencapai KKM.

Di lain pihak, ada sebagian anak yang cakap di bidang keterampilan atau santun dalam bersikap. Mereka adalah anak-anak yang berbakat. Mereka adalah anak-anak yang berkarakter. Hanya saja mereka lemah di sisi lain. Di aspek kognitif mereka lebih rendah disbanding yang lain. Namun demikian, bukan berarti mereka anaka yang bodoh. Mereka adalah anak-anak yang luar biasa di bidang yang dikuasainya.

Keunggulan di bidang pengetahuan bagi sebagian anak juga belum merata di semua mata pelajaran. Hanya beberapa mata pelajaran saja yang dikuasainya, dan mereka lemah di mapel yang lainnya. Mereka juga bukan anak yang bodoh. Mereka anak yang pintar sesuai ilmu yang disenangi dan dikuasainya. Mengharapkan anak menguasai secara maksimal semua mata pelajaran adalah harapan yang sangat berat. Apalagi bila harus diikuti dengan kesempurnaan keterampilan dan kepribadian. Namun demikian, harapan tetap selalu ada.

Dengan berbagai kondisi yang melingkupi siswa, seorang guru tidak selayaknya berkeluh kesah. Mereka tetap saja melakukan pembimbingan, pelatihan, dan pendidikan pada anak didiknya. Dalam proses penilaian, guru juga melakukan kegiatan sebagaimana mestinya sesuai amanat kurikulum. Berbagai penilaian dilakukan yang semuanya mengarah pada penilaian otentik. Guru menilaia apa adanya dan melaksanakannya ketika pembelajaran sedang berlangsung.

Ketika proses pembelajaran sudah selesai, tibalah saatnya penilaian akhir semester atau akhir tahun. Nilai yang sudah didokumentasi saatnya untuk diolah menjadi nilai-nilai jadi. Harapannya, begitu Kepala Sekolah menyuruh guru untuk mengumpulkan nilai, semuanya sudah siap tersaji. Guru menyiapkan aplikasi nilai, dan semua data nilai dimasukkan satu persatu.

Akhirnya, waktu yang ditunggu pun tiba. Kepala Sekolah melakukan briefing terkait penilaian akhir semester. Dalam himbauannya beliau mengatakan bahwa semua nilai anak harus di atas KKM. Glek! Informasi yang mengagetkan. Menurutnya, penilaian otentik dilaksanakan selama proses pembelajaran. Begitu memasuki penilaian akhir yang harus dilaporkan kepada orang tua dan instansi terkait, semua nilai anak harus di atas KKM. Atau minimal sama dengan KKM. Apabila masih ada nilai yang masih di bawah KKM, guru harus berupaya agar nilainya bisa KKM. Guru bisa memanfaatkan waktu yang tersisa.

Dalam kondisi seperti ini, guru tidak bisa berbuat apa-apa. Kebijakan sekolah dimaknai sebagai kesepakatan bersama. Semua guru harus mematuhi kesepakatan yang ada. Akhirnya, hasil dari penilaian otentik yang selama ini dilakukannya harus mengalami “daur ulang”. Guru harus pandai mengatur agar semua nilai anak bisa KKM. Nilai kepribadian dan keterampilan untuk sementara diabaikan dulu. Pada saatnya nanti nilai bisa diatur dan menyesuaikan nilai akhir. Dalam situasi seperti inilah guru mempunyai keterampilan tambahan yaitu ngaji. Ngaji bila dilakukan dengan cara membuka kitab tentu sangat baik dan positif. Tetapi bila ngaji diartikan sebagai ngarang biji mungkin bagi banyak guru nampak sebagai sebuah beban.

Banyak guru berharap bahwa penilaian otentik bisa dilaksanakan sampai akhir penilaian hingga berupa nilai pada rapor. KKM hanyalah sebuah pembatas pada pencapaian pengetahuan tetapi tidak dianggap sebagai batas suci yang harus selalu dipatuhi untuk dilalui. Nilai di bawah KKM bukanlah sebuah dosa melainkan sebuah refleksi.

Apabila nilai siswa harus selalu memenuhi KKM bisa saja mengingkari proses penilaian otentik yang dilakukan guru. Dengan begitu banyaknya nilai yang dilaksanakan guru melalui penilaian otentik, akan menjadi sia-sia bila penentuan akhir hanya berdasarkan kemampuan guru untuk “mengaji”. Bila demikian halnya, hasil sangat mungkin akan mengingkari proses.

Alhamdulillah, kondisi seperti ini mungkin hanya dialami oleh sebagian kecil sekolah atau bahkan tidak ada sama sekali sekolah yang mengalaminya. Mungkin saja apa yang terurai hanya sebuah lamunan dan khayalan. Kita masih sangat yakin bahwa guru-guru mempunyai integritas untuk melakukan proses penilaian dengan sebaik-baiknya termasuk pengolahan hasilnya. Begitu juga dengan integritas sekolahnya. Bila demikian, tidak ada lagi yang perlu diragukan. Semuanya akan berjalan baik-baik saja.

Yang terakhir, menilai sesuai format K13 itu sungguh mengasyikkan. Apalagi bila mengajarnya di 12 kelas dengan jumlah siswa sebanyak 324. Tidak percaya? Buktikan saja!

Gerimis di sore hari

11122017

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Sepertinya tulisan ini dibuat sambil ngaji

11 Dec
Balas

Hehe Bu Pengawas tahu aja. Siapa dulu dong gurunya

11 Dec

Hehe ngaji ngarang biji, kalo sudah kepepet bisa saja dilakukan. Tahu saja PakLeck.

11 Dec
Balas

Ngajinya sebentar saja. Yang penting hasilnya

11 Dec

Siip lah ,,,,,,,,Dg melalui proses dan integritas yg tinggi, akan terwujudlah penilaian autentik dari pengetahuan ,sikap dan keterampilan

11 Dec
Balas

Mantap.

11 Dec

Setuju leck Murman , mencari guru yg punya integritas , susah karena sistem , sehingga banyak dilemanya

11 Dec
Balas

Dilema akhir semester

11 Dec

Nilai riel siswa lebih rendah dibanding nilai KKM. kalau dalam ilmu ekonomi itu disebut Batas Bawah atau Floor price maksudnya harga harus berada diatas harga equilibrium jadi diatas harga pasar. Nilai KKM memakai teori diatas maka Artinys angka nilai dipatok diatas kemampuan rata rats siswa tulisan yang bagus saya belum bisa pinter nulis seperti bapak

11 Dec
Balas

mantap, pak. uraian yang cukup mudah dimengerti

11 Dec

Saya masih adaptasi dengan penilaian K13. Tapi berusaha tidak mengaji dalam memberikan nilai.

11 Dec
Balas

luar biasa. salut buat bu Tri.

11 Dec

Tulisan menarik, paj Leck Fenomena Mastery learning yg ga pernah tuntas.

11 Dec
Balas

Bagus itu untuk ide menulis

11 Dec

Tulisan yang menarik..bukan mastery learning lagi ini mah...tapi "misteri" learning..namun geli ada kalimat kalau kasek mengharuskan nilai di atas kkm...oooh no...ada iyanya tapi sukar diterima..dan guru disuru kreatif /mencari jalan sndiri untuk mencapai itu...selamat ya pak leck murman...berselancar bersama kkm ..hehe slam kenal

12 Dec
Balas

Mantap, menginspirasi...

12 Dec
Balas

Derita guru di akhir semester?

12 Dec
Balas

Mungkin juga sudah jadi rahasia umum , kalau guru selain pinter ngajar dan nguji juga terpaksa ngaji (ngarang biji) Waallahu a'lam

12 Dec
Balas

Mungkin juga sudah jadi rahasia umum , kalau guru selain pinter ngajar dan nguji juga terpaksa ngaji (ngarang biji) Waallahu a'lam

12 Dec
Balas

KKM membuat guru tidak merdeka

12 Dec
Balas

KKM membuat guru tidak merdeka

12 Dec
Balas

Semua anak adalah bintang....sesuai dengan minatnya.....guru berperan membuat bintang itu tambah bersinar....bukan 'memaksakan" disemua mapel dia harus hebat.....KKM boleh...tapi jangan buat standar yang terlalu memberatkan....

13 Dec
Balas

KKM itu adalah target yg harus dicapai guru bukan hantu yg manakutkan dan bukan penjajah yg membuat guru tdk merdeka. Bukankah KKM itu ditetapkan oleh guru itu sendiri. Ketika ada nilai anak tidak mencapai target atau di bawah KKM alias tdk tuntas maka guru berkewajiban melakukan remedial, ajar ulang anak tersebut sampai tuntas. Kalau tidak tuntas juga alias tdk mencspai KKM setelah dilakukan beberapa kali remedial berarti ada yg salah di sini; CARA MENGAJAR GURU JUGA PATUT DIPERTANYAKAN.

13 Dec
Balas

Terimakasih pak murman, saya dapat kosa kata baru 'NGAJI'

14 Dec
Balas

Ooooh "ngaji" .... Ternyata ... Ngarang biji .... Gtu to Pak LeckMurman .... Salam KenaL

18 Jan
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali