Leck Murman

Ingin menjadikan menulis sebagai bagian dari hidupnya. Walaupun tidak memiliki banyak teori tentang menulis yang penting menulis, menulis, dan menulis. Itu...

Selengkapnya
Bikin Kelas Menulis Yuk

Bikin Kelas Menulis Yuk

Pagi itu cerah sekali. Matahari masih malu-malu menampakkan wajahnya. Masih tersisa semburat warna merah di ufuk timur. Langit yang bersih menandakan hari itu sedang cerah secerah hatiku.

Kukeluarkan sepeda motorku dari garasi. Kutempatkan di sebelah rumah agar tidak mengganggu pemandangan dari dalam rumah. sesaat kemudian kubersihkan motorku agar terhindar dari debu dan karat.

Waktu menunjukkan pukul 08:25 pagi. Kujalankan motorku perlahan menuju rumah temanku. Perlu waktu sekitar 20 menit agar aku bisa sampai di sana. Rumah temanku berada di sebuah desa yang berbeda kecamatan denganku. Rumahnya besar dan nyaman apabila dipakai untuk pertemuan, termasuk pertemuan dengan teman-teman sekolah.

Hari itu aku memenuhi undangan teman-temanku. Kami merencanakan bertemu di rumah teman untuk sekadar bersilaturahmi. Tapi, bukan itu tujuan utama kami. Kami menginginkan lebih dari sekadar bersilaturahmi. Kami ingin ada kegiatan yang positif dan bermanfaat yang bisa kami lakukan.

Aku memnuhi undangan hari itu. Ketika sampai di rumah temanku, banyak teman yang sudah datang lebih dahulu. Mereka nampak ceria dan gembira. Tidak nampak beban hutang di wajah mereka. Yup, semoga saja seperti itu. Aku berharap mereka memang benar-benar tidak punya beban hutang dalam kehidupannya.

Begitu sampai di depan rumah temanku, segera kuparkir sepeda motorku. Aku melangkah pasti masuk ke rumah temanku. Kusalami teman-temanku satu per satu. Betapa hangat penyambutan mereka. Kami memang jarang bertemu. Jadi, setiap kali bertemu yang ada hanyalah keakraban dan kehangatan dalam ikatan persaudaraan dan kekeluaragaan. Sesaat kemudian aku mengambil tempat untuk sekadar duduk dan melepas penat.

Acara berganti. Teman-teman ada yang ngobrol kesana kemari dan ada juga yang menyanyikan lagu-lagu rohani. Walaupun suara “emasnya” tidak bisa dinikmati tetapi paling tidak mereka ingin menghibur diri. Ada juga teman yang hanya duduk diam tidak tahu harus berbuat apa. Mereka adalah teman-teman yang introvert atau pendiam. Mereka harus didekati dan diajak bicara. Barulah mereka bisa ngobrol dan berinteraksi.

Setelah ngobrol sana ngobrol sini, acara inti segera kami mulai. Selain acara silaturahmi, hari itu kami ingin memanfaatkan pertemuan dengan menulis. Iya, menulis adalah target kami. Kami ingin menulis. Kami ingin mengabadikan diri kami dalam sebuah ikatan yang tidak akan terlupakan. Caranya? Ya dengan menulis.

Tahap awal kami ingin menulis secara bersama-sama. Orang bilang kami menulis dalam bentuk antologi. Itulah yang kami lakukan. Antologi merupakan pilihan kami agar kami semua bisa berekspresi dan berpartisipasi. Kami semua sudah siap dengan laptop yang akan memuat tulisan kami. Satu demi satu tulisan bisa selesai dan tersaji. Perlu waktu sekitar satu jam bagi kami untuk mengungkapkan isi hati. Tidak banyak target kami. Cukup satu halaman saja. Kalau ada yang mampu menulis lebih dari satu halaman, tentu menjadi berkah bagi kami semua. Yang penting kami menikmatinya dan kami senang melakukannya.

Oh ya, sebelum kami menulis, terlebih dahulu aku sudah menyampaikan tata cara menulis dan mengekspresikan diri. Kuberikan contoh-contoh termudah yang kira-kira mereka bisa. Kubuat suasana yang merdeka dan tanpa beban agar kegiatan menulis tidak menegangkan, apalagi menakutkan. Setelah materi kusampaikan, teman-teman ternyata bisa menyerap dan memahaminya dengan sangat sempurna. Mereka bisa menulis dengan baik. Berbagai ungkapan dan ekspresi diri mereka sampaikan. Tidak sampai siang karya-karya hebat mereka sudah bisa dikumpulkan. Betapa hebatnya mereka. Betapa hebatnya teman-temanku. Dengan sedikit sentuhan saja, mereka sanggup mengeluarkan segala potensi yang mereka miliki. Guru-guru Indonesia memang luar biasa. Mereka punya potensi. Mereka memiliki bakat. Hanya kesempatan saja yang selama ini belum mereka dapatkan. Nyatanya, sekarang mereka bisa. Mereka sudah menunjukkan eksistensinya. Buku antologi sudah siap diterbitkan.

Kegiatan reuni berjalan mulus. Tidak ada hambatan. Hingga akhirnya kami semua menikmati makan siang. Semua saling berebutan. Kocar-kacir tidak karuan. Banyak minuman dan makanan yang berceceran. Kucoba berteriak untuk menenangkan mereka. Teriakanku semakin kencang tetapi tidak ada yang menghiraukan. Tiba-tiba ada suara yang halus dan lembut ditelingaku, “Mas, bangun. Ayo bangun. Gak baik teriak-teriak di siang hari.”

Ternyata aku hanya mimpi. Mimpi bertemu teman-teman dalam sebuah acara reuni yang diisi dengan penyusunan antologi. Apakah penyusunan antologi juga mempermudah rezeki? Wallahu a’lam.

Siang hari di rumah

08122017

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Uuuhhhhh.... Dasar paklek. Gemes deh, jadinya. Dengan serius kubaca kalimat demi kalimat dari awal. Penuh kekaguman. Lha kok njeketek.... Ehm bikin illfil.

08 Dec
Balas

Ponakane sing kudu mewujudkan mimpi2 itu

08 Dec

Mimpi indah yang akan segera terwujud sudah punya daya khayal yang cukup tinggi

08 Dec
Balas

semoga mimpi indah kan menjadi nyata

08 Dec

Yah ... Pak Leck ... PakLeck ... tiwas aku kecewa berat jika aku terlewat.

08 Dec
Balas

Menunggumu selalu

08 Dec

Menunggumu selalu

08 Dec

nah itu akibat tidur siang2 pa kepsek, besok-besok kalau mimpi reuni tidur deh....hehe

08 Dec
Balas

Alhamdulillah bangun tidur jadi langsing hehe

08 Dec

Alhamdulillah bangun tidur jadi langsing hehe

08 Dec

Sebuah mimpi yang menginspirasi

08 Dec
Balas

sebetulnya itu cerita inspirasi yang dibingkai dalam sebuah mimpi hehe ... yuk kita wujudkan

08 Dec

Jadikan beneran yuuk!! Ini mimpi yg bagus, eh ide yg bagus!

08 Dec
Balas

Yuk, wujudkan mimpi yang bagus itu

08 Dec

Lhoo....

08 Dec
Balas

Ternyata

08 Dec

Wouw....

08 Dec
Balas

Kereeen

08 Dec

Hahaaa.. pak leck... Mimpi yg mendatangkan ide. Kenapa tidak?

08 Dec
Balas

Idenya masih sebatas mimpi

08 Dec

Setuju diadakn silaturahmi dan kegiatn menulis spt yg ada di mimpinya PakLeck. Ayoooo

08 Dec
Balas

Bungkus. Ayo berangkat

08 Dec

Let's make it true, pak Leck. It will be very nice. V

08 Dec
Balas

I do hope so

08 Dec

Kirain beneran Pak Leck. 'tiwas' mau daftar. He5

08 Dec
Balas

Idenya beneran. Penyampaiannya yang lewat mimpi hehe

08 Dec

Kirain beneran, pak Leck. Hehehe, pak Leck ke sesem saat memberikan materi menulis ya? Boleh juga pak Leck, idenya.

08 Dec
Balas

Mari kita wujudkan

08 Dec

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali