Leck Murman

Ingin menjadikan menulis sebagai bagian dari hidupnya. Walaupun tidak memiliki banyak teori tentang menulis yang penting menulis, menulis, dan menulis. Itu...

Selengkapnya
[Serial Gito] Gito Menjadi Pembina Upacara

[Serial Gito] Gito Menjadi Pembina Upacara

Sudah menjadi kesepakatan, di sekolahnya Gito, pembina upacara dilaksanakan secara bergiliran oleh semua guru. Giiran dibuat secara urut sesuai Daftar Urut Kepangkatan (DUK). Kepala sekolah hanya bertugas ketika upacara memperingati hari besar saja, seperti Hari Pendidikan Nasional, Hari Pahlawan, Hari Kemerdekaan, dan lain-lain. Untuk upacara rutin setiap Senin, yang bertugas sebagai Pembina upacara adalah guru secara bergiliran. Guru Tidak Tetap (GTT) juga mendapatkan giliran tanpa kecuali. Begitu pula yang dialami Gito, guru honorer yang sudah berpengalaman mengajar selama 15 tahun. Mungkin itu sebabnya, dia masih tetap jomlo hingga kini.

Senin pagi, Agustus 2018, Gito mendapat giliran menjadi pembina upacara di sekolah. Bangun pagi, dia sudah mempersiapkan diri. Semalam dia seperti tidak bisa tidur. Yang ada dalam pikirannya hanyalah materi apa yang akan disampaikannya pada anak-anak. Maklum, dia selalu terbebani apabila disuruh menjadi Pembina upacara.

Sebagai guru senior (untuk tidak mengatakan sebagai guru tua), dia punya beban tampil yang terbaik. Dia malu apabila tidak bisa memberi contoh terbaik pada guru-guru muda. Untuk itu, dia ingin menampilkan kemampuan terbaiknya.

Sampai di sekolah, dia menuju ruang guru. Disalaminya semua guru. Setelah itu, dia duduk di kursi kerjanya. Tidak lama. Dia berdiri dan berjalan menuju ruang Tata Usaha. Jantungnya berdegup kencang. Tugas sebagai Pembina upacara sangat membebaninya. Dia ambil kunci toilet. Aha! Dia tuntaskan segala hajat yang mengganggu. Lega rasanya.

Upacara segera dimulai. Gito masih merasa deg-degan. Belasan tahun mengajar tidak menjadikannya kuat mental. Berdiri di depan kelas memang tidak lagi menjadi masalah. Akan tetapi, berdiri di lapangan dengan disaksikan semua dewan guru menjadi beban yang sangat menyiksa. Apalagi ada kepala sekolah yang berdiri tepat di belakangnya.

Upacara dimulai. Keringat dingin mulai bercucuran. Sapu tangan yang dibawa dari rumah, dikeluarkan dari sakunya. Gito mengusap dahinya yang basah. Perlahan dia kembali menata mentalnya. Degup jantungnya belum stabil. Kaki gemetaran. Seperti mau jatuh rasanya.

“Pembina Upacara dipersilakan menempatkan diri.” Pembawa acara membacakan susunan acaranya. Dengan sisa keberanian yang masih ada, Gito melangkah perlahan. Bismillah. Langkah satu dua dia ayunkan. Dengan dikawal petugas upacara, dia maju menuju podium. Tempat yang lebih tinggi dan tampak “merbawani”.

“Amanat pembina upacara. Pasukan diistirahatkan.”

Gito menguatkan mentalnya. Dia kumpulkan semua memori terbaiknya. Dia sampaikan materi sambutan yang sudah dipersiapkannya. Badannya masih tetap gemetaran, tetapi dia tetap berusaha untuk berdiri tegak. Dia seorang guru senior. Dia harus bisa menampilkan yang terbaik dan menjadi contoh bagi guru-guru lainnya.

“Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” suara Gito menggelegar mengakhiri sambutannya. Dia melaksanakan tugas dengan lancar dan sangat baik. Satu tugas terselesaikan.

Di kejauhan tampak Bude Dwi dan Bulek Manik bertepuk tangan. Mereka menahan tawa. Geli melihat penampilan Gito. Dengan penampilan yang bisa diandalkan, kancing bajunya ada yang lepas dan kelihatan pusarnya. Gito oh Gito. Kenapa sih kamu?

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Owalaaa..., piye tho... Gito. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, Pak Leck.

19 Jan
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali