Leck Murman

WA: 081225243227 .Terlahir sebagai generasi akhir 60-an, PakLeck menghabiskan masa kecil di sebuah desa kecil di Kota Wali, tepatnya di Desa Sidokumpul, Kecamat...

Selengkapnya
Pilih Menulis Artikel di Koran atau Menulis Buku?
Gambar diambil dari https://www.elindsulistyowati.com/2018/03/menulis-antologi-langkah-awal-menulis.html

Pilih Menulis Artikel di Koran atau Menulis Buku?

Tak dapat dimungkiri, akhir-akhir ini banyak sekali pelatihan yang mengajak para guru untuk menulis buku. Pelatihan Satu Guru Satu Buku (Sagusabu) adalah salah satu contohnya. Sagusabu digagas dan dilaksanakan oleh MediaGuru bekerja sama dengan berbagai komunitas. Setelah Sagusabu, muncul beberapa pelatihan sejenis dengan nama yang berbeda-beda tetapi tujuannya sama yaitu membantu guru menulis buku.

Merebaknya pelatihan penulisan buku merupakan respon pasar berupa kebutuhan guru untuk menghasilkan karya yang bisa dinilaikan sebagai angka kredit. Harapannya, dengan mempunyai sebuah buku tunggal, penulis akan mendapatkan nilai 4 pada angka kredit. Walaupun sejatinya, menulis buku bisa mempunyai banyak tujuan di antaranya sebagai legasi (warisan), mendapatkan royalti, popularitas, dan lain-lain.

Setelah booming pelatihan penulisan buku, kini bermunculan pelatihan menulis artikel di media massa. Dengan harapan tulisannya bisa dimuat di surat kabar, banyak guru yang tertarik mengikuti pelatihan ini. Jadi, faktor yang paling menentukan dalam pelatihan menulis artikel adalah jaminan dari penyelenggara bahwa semua tulisan pasti dimuat. Hanya diperlukan waktu yang tidak terlalu lama untuk menulis sebuah artikel, kemudian hasilnya bisa dilihat.

Yang lebih menarik lagi, sebuah artikel yang dimuat di surat kabar bisa mendapatkan angka kredit 1.5. Sebuah angka kredit yang sangat menggiurkan. Bandingkan dengan menulis sebuah buku. Waktu yang dibutuhkan sangat lama, angka kredit yang diperoleh belum tentu bisa diharapkan.

Artikel di surat kabar yang dinilaikan untuk angka kredit memang tidak sama penilaiannya antara satu daerah dengan daerah lainnya. Begitu pula buku tunggal yang sudah terbit ber-ISBN. Dengan adanya ISBN, mestinya sebuah buku diakui secara internasional. Namun demikian, tidak semua penilai angka kredit mengakui eksistensi sebuah buku. Alasan yang dikemukan bisa bermacam-macam dan sangat variatif. Akibatnya, alih-alih mendapatkan angka kredit 4 sebagaimana petunjuk di dalam buku, buku yang sudah ber-ISBN bisa jadi hanya mendapatkan angka kredit 1 atau bahkan tidak dinilai sama sekali. Tragis memang.

Lalu, lebih memilih mana antara menulis buku atau menulis artikel? Sekali lagi tujuan menulis tidak semata-mata hanya untuk memperoleh angka kredit. Untuk itu, menulis artikel di media massa penting dan menarik. Begitu pula menulis buku. Guru yang mampu menulis buku sudah pasti menjadi pembeda dibandingkan guru-guru lainnya. Ingat sebuah pepatah, “Gajah mati meninggalkan gading; harimau mati meninggalkan belang; guru mati meninggalkan buku.” Nasihat yang luar biasa dan sudah selayaknya kita memberi apresiasi tinggi kepada para guru penulis buku.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

George gun doors Paklik... Menulis untuk menulis memang lebih nikmat... Waba'du.

03 Jan
Balas

George gun doors Paklik... Menulis untuk menulis memang lebih nikmat... Waba'du.

03 Jan
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali